![]() |
| Durratun Nashihin Fil Wa'zhi Wal Irsyad |
Diceritakan dari Maimun bin Mahram, bahwa hamba sahaya
yang perempuan datang membawa gulai, maka dia terantuk lalu gulai itu tumpah
kepadanya, sehingga Maimun hendak
memukul kepadanya. Maka berkata wanita itu: Hai tuanku, laksanakanlah firman Allah Ta’ala: “…dan orang-orang yang menahan
kejengkelannya.”
Sungguh aku laksanakan kata Maimun.
Lalu kata wanita itu pula: Lakasanakanlah juga firman berikutnya: “Dan mereka yang memaafkan orang.”
Maimun berkata: “Sesungguhnya aku
memaafkan engkau.”
Maka berkatalah wanita itu: “Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Maka berkata pula Maimun: “Aku pasti berbuat kebajikan kepadamu, maka engkau merdeka,
demi keridhaan Allah Ta’ala.” (Raudhatul
Muttaqin)
“Orang yang menafkahkan
hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit.”
Yakni baik di waktu mudah atau susah.
Jadi, hal yang pertama-tama disebutkan di antara akhlak orang-orang
yang bertaqwa yang menyebabkan masuk surga adalah tentang kedermawanan. Dalam
pada itu, terdapat pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa dia berkata:
Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang
dermawan itu dekat dari Allah, dekat dari surga, dekat dari manusia, jauh dari
neraka. Sedang orang-orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari surga,
jauh dari manusia, dekat dari neraka. Dan orang yang bodoh tetapi dermawan
adalah lebih disukai Allah daripada orang yang alim tetapi kikir.”
“Dan
orang-orang yang menahan kejengkelannya.”
Yakni menelan kejengkelannya di kala hati mereka penuh dengannya.
Al-Kazhmu artinya:
Menahan sesuatu ketika penuh. Sedangkan,
Kazhmul Ghaizh artinya:
Penuh kejengkelan itu ke dalam perutnya dan tidak dia tampakkan.
Dan dari Nabi SAW: “Barangsiapa menahan kejengkelan, sedang dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat, disaksikan oleh seluruh makhluk, sehingga dia boleh memilih bidadari yang mana yang dia kehendaki.”
“Dan
mereka yang memaafkan orang.”
Yakni orang yang pernah menganiaya dan berbuat buruk terhadap
mereka.
“Dan
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ma’alimut
Tanzil)
Sabda Rasulullah SAW: “Seseorang” yakni laki-laki “akan senantiasa
menganut agama temannya” yakni kawan dan sahabatnya. “Maka hendaklah
seorang dari kamu memperhatikan,” maksudnya: Hendaklah seorang teman
memperhatikan “kepada
orang yang dia temani,” yakni yang dia kawani. “Maka, carilah seorang teman”
yakni sahabat yang akan menjadi sekutumu dalam belajar dan sahabatmu “dalam urusan
agamamu” yakni dalam menunaikan agamamu “dan duniamu”. Karena dari
seorang taman akan diperoleh keuntungan-keuntungan keagamaan, seperti ilmu,
amal, doa dan syafaat diakhirat dan juga keuntungan-keuntungan duniawi seperti
pangkat, kemesraan, pergaulan dan lain-lain.
Dan dari hadits ini
dapatlah dipahami, bahwasanya tidaklah patut diajak berkawan orang yang buruk
akhlaknya, yaitu orang yang tidak mampu menguasai nafsunya di kala marah dan
bersyahwat, sehingga akan terjerumus ke dalam kemaksiatan.
(Hadits
ini tersebut dalam Bidayatul Hidayah
karangan Imam Al-Ghazali)
<<Lihat Sebelumnya<< (*_*) >>Lihat Selanjutnya>>









No comments:
Post a Comment