Beginilah ciri-ciri orang penghuni surga dan penghuni neraka yang tertulis dalam kitab Durratun Nashihin...
Nabi SAW bersabda: “Orang yang bakhil,” maksudnya, orang yang sempurna kekikirannya, sebagaimana dapat dipahami dari ma’rifatnya mubtada’, “ialah orang yang aku disebut di sisinya,” maksudnya orang yang mendengar namaku disebut, “namun dia tidak bershalawat kepadaku”. Karena kekikiran seperti ini sebenarnya kekikiran terhadap dirinya sendiri, karena berarti ia mengharamkan dirinya dari rahmat Allah terhadapnya sepuluh kali, sekiranya dia bershalawat kepada Nabi SAW satu kali saja.
![]() |
| Durratun Nashihin Fil Wa'zhi Wal Irsyad |
Nabi SAW bersabda: “Orang yang bakhil,” maksudnya, orang yang sempurna kekikirannya, sebagaimana dapat dipahami dari ma’rifatnya mubtada’, “ialah orang yang aku disebut di sisinya,” maksudnya orang yang mendengar namaku disebut, “namun dia tidak bershalawat kepadaku”. Karena kekikiran seperti ini sebenarnya kekikiran terhadap dirinya sendiri, karena berarti ia mengharamkan dirinya dari rahmat Allah terhadapnya sepuluh kali, sekiranya dia bershalawat kepada Nabi SAW satu kali saja.
(Demikian
tersebut dalam Al-Jami’ush Shaghir)
Nabi SAW
bersabda:
“Penghuni
surga itu ada tiga”:
1) “Penguasa” yakni orang
yang mempunyai pemerintahan dan kekuasaan, “yang tidak
berat sebelah,” yakni “adil, yang bersedekah”
yakni berbuat baik kepada orang-orang fakir, “yang
mendapat taufiq,” dengan difathahkan ha-nya, artinya: Orang yang dikaruniai ketaatan kepada Allah dan adil
dalam memerintah.
2) “Dan
orang,” yakni orang yang kedua ialah orang, “yang
pengasih lagi lembut perasaannya,” maksudnya dalam hatinya
terdapat kelembutan, belas kasih “terhadap setiap
orang yang ada hubungan kerabat dan setiap muslim,” yakni
terhadap orang-orang yang ada hubungan dekat maupun jauh dengannya.
3) “Dan
orang yang ‘afif,” yakni, yang ketiga ialah orang yang saleh “yang memelihara diri,” yakni mencegah
diri dari apa-apa yang tidak halal dan tidak patut, “yang
mempunyai keluarga” tapi tidak terpengaruh oleh cintanya
terhadap keluarga untuk mengambil harta yang haram, bahkan lebih suka mencintai
Allah daripada cintanya kepada keluarganya.
“Dan penghuni neraka itu ada lima”:
1) “Orang
yang lemah tidak mempunyai kesabaran,” yakni tidak tahan “dikala” datangnya “syahwat-syahwat”
lalu tidak menahan diri dari perkara haram. Alladzii disini sama artinya dengan Alladiina,
dan oleh karena itu diberi badal: “yaitu mereka
yang menurut saja di kalangan kamu sekalian”. Ada yang
berpendapat, mereka adalah penganggur yang tidak berkeinginan melakukan amal
akhirat “dan tidak menginginkan,”
yakni tidak menghendaki “keluarga,”
lalu tidak mau kawin dan melakukan perbuatan keji, “dan
tidak pula menginginkan harta”. Yakni tidak mau mencari harta
yang halal, karena mereka memang tidak suka mengaktifkan tangannya. Dan ada
pula yang berpendapat, mereka adalah orang-orang yang mengelilingi raja-raja,
berkhidmat kepada mereka tanpa peduli dari mana pun mereka makan dan
berpakaian, apakah dari jalan yang haram atau yang halal, mereka tidak
menginginkan keluarga maupun harta,
bahkan mereka membatasi diri
untuk makan dan minum saja.
2) “dan
pengkhianat yang tidak menyembunyikan kerakusannya,” yakni tidak
menyembunyikan kerakusannya terhadap apa saja “batapapun
kecilnya,” yakni, melainkan dia berusaha memperolehnya sehingga
dia mendapatkannya lalu dia khianati. Atau artinya: Dia tidak punya keinginan di tempat
penghianatan manapun selain keinginan untuk berkhianat terhadap apa yang dia
inginkan, sekalipin barang yang diinginkan itu kecil saja. Dan ini
adalah penghuni kedua di antara kelima.
3) “dan
orang tidak mengalami pagi maupun sore kecuali dia menipumu,” yakni tidak
mau berpisah dari penipuannya terhadap dirimu tentang keluarga dan hartamu “pagi dan petang,” yakni dalam berbagai
keadaan dia lebih banyak menipumu.
4) “Dan
beliau menyebutkan,” maksudnya periwayat hadits ini mengatakan: Nabi SAW menyebutkan diantara yang lima itu,
“kebakhilan dan kedustaan,” yakni orang
yang bakhil dan pendusta. Beliau menempatkan mashdar mengartikan isim fa’il. Dan ini adalah penghuni
neraka keempat.
5) “Dan
Syinzhir” dengan mengkasrahkan syin
dan zha yang kedua-duanya bernoktah
disela-selai dengan sukun yang artinya: orang
yang berakhlak buruk “yang sangat
keji,” na’at dari Syinzhir,
maksudnya: selain akhlanya buruk, dia
juga sangat keji omongannya. Dan inilah penghuni neraka yang kelima.
(Demikian tersebut dalam Syarah al-Mashabih
oleh Ibnu Malik)
Imam Al-Qusyairi (semoga Allah mensucikan jiwanya) berkata: Allah Ta’ala menyuruh hamba-Nya berlaku
adil dalam hubungan antara dia dengan Allah
Ta’ala, dalam hubungan antara dia dengan dirinya sendiri dan dalam hubungan
antara dia dengan sesama makhluk. Adil antara dia dengan sesama makhluk. Adil
antara dia dengan tuhannya ialah lebih mengutamakan hak Allah Ta’ala daripada kepentingan dirinya sendiri, dan mendahulukan
keridhaan Allah daripada keinginan
dirinya, serta melepaskan diri dari semua larangan, dan siap sepenuhnya untuk
senantiasa melakukan segala perintah Allah.
Dan adil hubungan antara dia dengan dirinya sendiri ialah mencegah diri dari hal-hal
yang mengakibatkan kebijaksanaannya. Dan adil dalam hubungan antara dia dengan
sesama makhluk Allah ialah memberi
nasehat, tidak khianat tentang hal yang
sedikit ataupun banyak, berlaku seimbang terhadap mereka dengan cara apapun dan
tidak menyakiti kepada seorang pun, baik dengan perkataan, perbuatan maupun
kata hati.









No comments:
Post a Comment