Berlaku Adil dan Berbuat Kebajikan (2)

Beginilah ciri-ciri orang penghuni surga dan penghuni neraka yang tertulis dalam kitab Durratun Nashihin...
Durratun Nashihin Fil Wa'zhi Wal Irsyad

Nabi SAW bersabda: “Orang yang bakhil,” maksudnya, orang yang sempurna kekikirannya, sebagaimana dapat dipahami dari ma’rifatnya mubtada’, “ialah orang yang aku disebut di sisinya,” maksudnya orang yang mendengar namaku disebut, “namun dia tidak bershalawat kepadaku”. Karena kekikiran seperti ini sebenarnya kekikiran terhadap dirinya sendiri, karena berarti ia mengharamkan dirinya dari rahmat Allah terhadapnya sepuluh kali, sekiranya dia bershalawat kepada Nabi SAW satu kali saja.
(Demikian tersebut dalam Al-Jami’ush Shaghir)


Nabi SAW bersabda:
“Penghuni surga itu ada tiga”:
1)     “Penguasa” yakni orang yang mempunyai pemerintahan dan kekuasaan, “yang tidak berat sebelah,” yakni “adil, yang bersedekah” yakni berbuat baik kepada orang-orang fakir, “yang mendapat taufiq,” dengan difathahkan ha-nya, artinya: Orang yang dikaruniai ketaatan kepada Allah dan adil dalam memerintah.
2)     “Dan orang,” yakni orang yang kedua ialah orang, “yang pengasih lagi lembut perasaannya,” maksudnya dalam hatinya terdapat kelembutan, belas kasih “terhadap setiap orang yang ada hubungan kerabat dan setiap muslim,” yakni terhadap orang-orang yang ada hubungan dekat maupun jauh dengannya.
3)     “Dan orang yang ‘afif,” yakni, yang ketiga ialah orang yang saleh “yang memelihara diri,” yakni mencegah diri dari apa-apa yang tidak halal dan tidak patut, “yang mempunyai keluarga” tapi tidak terpengaruh oleh cintanya terhadap keluarga untuk mengambil harta yang haram, bahkan lebih suka mencintai Allah daripada cintanya kepada keluarganya.


“Dan penghuni neraka itu ada lima”:
1)     “Orang yang lemah tidak mempunyai kesabaran,” yakni tidak tahan “dikala” datangnya “syahwat-syahwat” lalu tidak menahan diri dari perkara haram. Alladzii disini sama artinya dengan Alladiina, dan oleh karena itu diberi badal: “yaitu mereka yang menurut saja di kalangan kamu sekalian”. Ada yang berpendapat, mereka adalah penganggur yang tidak berkeinginan melakukan amal akhirat “dan tidak menginginkan,” yakni tidak menghendaki “keluarga,” lalu tidak mau kawin dan melakukan perbuatan keji, “dan tidak pula menginginkan harta”. Yakni tidak mau mencari harta yang halal, karena mereka memang tidak suka mengaktifkan tangannya. Dan ada pula yang berpendapat, mereka adalah orang-orang yang mengelilingi raja-raja, berkhidmat kepada mereka tanpa peduli dari mana pun mereka makan dan berpakaian, apakah dari jalan yang haram atau yang halal, mereka tidak menginginkan keluarga maupun harta,  bahkan  mereka membatasi diri untuk makan dan minum saja.
2)     “dan pengkhianat yang tidak menyembunyikan kerakusannya,” yakni tidak menyembunyikan kerakusannya terhadap apa saja “batapapun kecilnya,” yakni, melainkan dia berusaha memperolehnya sehingga dia mendapatkannya lalu dia khianati. Atau artinya: Dia tidak punya keinginan di tempat penghianatan manapun selain keinginan untuk berkhianat terhadap apa yang dia inginkan, sekalipin barang yang diinginkan itu kecil saja. Dan ini adalah penghuni kedua di antara kelima.
3)     “dan orang tidak mengalami pagi maupun sore kecuali dia menipumu,” yakni tidak mau berpisah dari penipuannya terhadap dirimu tentang keluarga dan hartamu “pagi dan petang,” yakni dalam berbagai keadaan dia lebih banyak menipumu.
4)     “Dan beliau menyebutkan,” maksudnya periwayat hadits ini mengatakan: Nabi SAW menyebutkan diantara yang lima itu, “kebakhilan dan kedustaan,” yakni orang yang bakhil dan pendusta. Beliau menempatkan mashdar mengartikan isim fa’il. Dan ini adalah penghuni neraka keempat.
5)     “Dan Syinzhir” dengan mengkasrahkan syin dan zha yang kedua-duanya bernoktah disela-selai dengan sukun yang artinya: orang yang berakhlak buruk “yang sangat keji,” na’at dari Syinzhir, maksudnya: selain akhlanya buruk, dia juga sangat keji omongannya. Dan inilah penghuni neraka yang kelima.
(Demikian tersebut dalam Syarah al-Mashabih oleh Ibnu Malik)


   Imam Al-Qusyairi (semoga Allah mensucikan jiwanya) berkata: Allah Ta’ala menyuruh hamba-Nya berlaku adil dalam hubungan antara dia dengan Allah Ta’ala, dalam hubungan antara dia dengan dirinya sendiri dan dalam hubungan antara dia dengan sesama makhluk. Adil antara dia dengan sesama makhluk. Adil antara dia dengan tuhannya ialah lebih mengutamakan hak Allah Ta’ala daripada kepentingan dirinya sendiri, dan mendahulukan keridhaan Allah daripada keinginan dirinya, serta melepaskan diri dari semua larangan, dan siap sepenuhnya untuk senantiasa melakukan segala perintah Allah. Dan adil hubungan antara dia dengan dirinya sendiri ialah mencegah diri dari hal-hal yang mengakibatkan kebijaksanaannya. Dan adil dalam hubungan antara dia dengan sesama makhluk Allah ialah memberi nasehat,  tidak khianat tentang hal yang sedikit ataupun banyak, berlaku seimbang terhadap mereka dengan cara apapun dan tidak menyakiti kepada seorang pun, baik dengan perkataan, perbuatan maupun kata hati.

No comments:

Post a Comment

Bergabunglah bersama kami dalam mengelola perdagangan Nasional.
"Kami telah siap melayani anda di Seluruh Indonesia"