Dan dari Ali RA: “Sesungguhnya para malaikat yang memikul ‘Arsy
ada empat orang. Masing-masing malaikat itu mempunyai empat wajah. Kaki-kaki
mereka menapak pada sebuah batu besar yang ada di bawah bumi yang ke tujuh,
sejauh perjalanan lima ratus tahun.” (Al-Qusyairi)
Imam Abu Laits As-Samarqandi berkata
mengenai surat Al-A’raf, ketika
menafsirkan firman Allah Ta’ala: “Lalu Dia bersemayam di atas
‘Arsy.”
Menurut sebagian ulama, ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat,
yang hanya di ketahui oleh Allah
saja penakwilannya.
Dan diceritakan pula dari
Yazid bin Marwan, bahwa ketika dia
di Tanya mengenai takwil dari ayat ini, maka jawabnya, “Takwilnya ialah beriman kepada-Nya,”
Dan ada pula diceritakan,
bahwa seorang laki-laki telah menemui Imam
Malik bin Anas, lalu bertanya kepadanya mengenai firman Allah Ta’ala: “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang
bersemayam di atas ‘Arsy.”
Maka jawab Imam Malik: “Beriman
kepada-Nya adalah wajib sedang menanyakan-Nya
adalah bid’ah. Dan saya lihat, kamu tak lain orang yang sesat.” Maka
murid-murid Imam Malik mengeluarkan orang itu.
Dan konon, Muhammad bin Ja’far pun berpendapat
serupa. Dan dari Ubay bin Ka’ab
bahwa dia berkata: Apabila seperempat malam telah lewat, maka Rasulullah SAW
bangun, lalu ujarnya: “Hai manusia, ingatlah kalian kepada Allah. Pasti datang
kegoncangan itu, diikuti oleh tiupan. Pasti datang maut dengan segala
akibatnya.”
Maka berkatalah Ubay bin Ka’ab: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya banyak
membaca shalawat untukmu. Berapakah shalawat yang harus aku sampaikan
kepadamu?”
Rasulullah
SAW menjawab: “Sebanyak yang kamu kehendaki.”
Kata Ka’ab: “Seperempat?”
Rasulullah
SAW menjawab: “Sebanyak yang kamu tambah, maka itu lebih baik bagimu.”
Kata Ka’ab pula: “Sepertiganya?”
Rasulullah
SAW tetap menjawab: “Sebanyak yang kamu kehendaki. Dan jika kamu tambah, maka
itu lebih baik bagimu.”
Kata Ka’ab lagi: “Ya Rasul Allah, dua pertiganya?”
Jawab Rasul SAW tetap: “Sebanyak yang
kamu kehendaki. Dan jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.”
Maka Ka’ab berkata: “Ya Rasul Allah, jadi shalawatku seluruhnya aku berikan kepadamu?”
Rasul SAW berkata: “Kalau begitu,
shalawatmu mencukupi tekadmu, dan di ampunilah dosamu.” (Syifa’un Syarif)
Maksudnya,bahwa para malaikat pemikul ‘Arsy itu membenarkan, bahwa
Tuhan itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya
dan tiada tara. Jadi bila anda bertanya: Mereka yang bertasbih memuji Tuhannya, lalu beriman
kepada-Nya. Padahal, tasbih itu hanyalah terjadi sesudah beriman. Maka
bagaimanakah pengertian firman-Nya: “Dan mereka beriman kepada-Nya?”
Saya jawab: “Pengertiannya ialah bahwa
itu merupakan peringatan, betapa mulia dan utamanya iman itu, dan merupakan anjuran
untuk beriman. Dan setelah Allah Ta’ala
‘Azza wa Jalla terhalang dari mereka oleh tabir-tabir keagungan,
keindahan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya,
maka Dia pun menyebut mereka sebagai
makhluk-makhluk beriman.” (Tafsir
Al-Khazin)
Dan bila anda masih
bertanya: “Bagaimana
pengertian mengenai permohonan ampun para malaikat untuk orang-orang yang
beriman, padahal mereka adalah orang-orang yang bertaubat lagi saleh, yang
dijanjikan akan mendapatkan ampun, sedang Allah
takkan menyalahi jani-Nya?”
Saya jawab: “Ini merupakan syafaat. Sedang pengertiannya ialah bertambahnya
dan pahala.” (Kasysyaf)
Ada pula ulama yang
mengatakan, permohonan ampun dari para malaikat untuk orang-orang yang beriman
ini adalah sebagai imbalan dari apa yang pernah mereka katakan:
“Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
Yakni, oleh karena dulu
para malaikat itu terlanjur mengatakan apa yang telah mereka katakan, maka kini
mereka lantas memohonkan ampun bagi orang-orang mukmin, hal mana juga merupakan
peringatan bagi selain malaikat, bahwasanya wajib atas orang yang telah
memperkatakan diri orang lain, sebagai penyesalan atas kata-kata yang terlanjur
dia ucapkan. (Tafsir Al Khazin)
| <Prev | 1 |
2
|
3 | Next> |
|---|








No comments:
Post a Comment