Berlaku Adil dan Berbuat Kebajikan (3)

Barangsiapa pernah menganiaya saudaranya mengenai kehormatan atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta maaf kepadanya hari ini sebelum tiada lagi dinar maupun dirham.


Durratun Nashihin Fil Wa'zhi Wal Irsyad
  Ketahuilah, bahwa perintah Allah untuk melakukan tiga hal tersebut di atas adalah mencakup semua yang diperintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Dan begitu pula dengan larangan Allah terhadap tiga hal tersebut di atas juga mencakup semua yang dilarang Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, setiap khatib di atas mimbar, pada akhir setiap khutbahnya membaaca ayat ini, agar menjadi pelajaran umum bagi semua orang.

   Dan dari Ibnu Mas’ud RA bahwa dia berkata: Ayat yang paling lengkap artinya dalam Al-Qur’an adalah ayat ini.
   Dan dari Ali RA berkata: Kesimpulan takwa terdapat pada firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil…” (al-‘Uyun wat-Taisir)

   Diriwayatkan dari Ustman bin Mazh’un, bahwa dia berkata: Pernah Rasulullah SAW menyeru aku kepada Islam, maka sayapun masuk Islam karena malu untuk tidak memenuhi seruannya, sedang Islam itu belum lagi mantap dalam hatiku. Pada suatu hari aku hadir di hadapan beliau. Maka tatkala berbicara kepadaku, tiba-tiba aku melihat mata beliau ke langit, kemudian kepalanya diangkat sekali lagi dari sebelah kanan kemudian beliau rendahkan ke sebelah kiri, sesudah itu beliau menghadapku sedang wajahnya menjadi merah dengan mengeluarkan keringat. Maka aku bertanya kepada beliau tentang keadaan yang menimpa beliau seperti itu.
Maka jawab beliau: “Ketika aku berbicara kepadamu, sekonyong-konyong aku mengangkat pandanganku ke langit, maka aku melihat Jibril turun ke sebelah kananku lalu berkata: ‘Ya Muhammad,’ selanjutnya dia membaca (Innallaha ya’muru bil-‘adli wal ihsani)….. sampai akhir ayat.”
Ustman mengatakan: “Maka menjadi mantaplah iman dalam hatiku di kala itu.”

   Dengan demikian, turunnya ayat ini menjadi sebab kemantepan iman Ustman bin Mazh’un, demikian dikatakan oleh Ibnusy Syaikh. Maka barangsiapa yang mempunyai akal, ia akan dapat mengambil pelajaran Allah Ta’ala dan dapat mengambil nasehat dari nasehat-nasehat Rasulullah SAW, dan dapat pula mengambil peringatan dari peringatan-peringatan beliau.


Sabda Nabi SAW: “Taukah kamu sekalian siapakah orang yang bangkrut?”
Para sahabat menjawab: “Orang-orang bangkrut di kalangan kami adalah orang-orang yang tidak lagi mempunyai dirham maupun harta benda.”
Maka sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang pada hari kiamat datang membawa shalat, puasa dan zakat. Ia datang dalam keadaan telah mengecam ini, menuduh itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan memukul si ini, lalu diantara kebaikan-kebaikan orang itu diberikan si ini, dan di antara kebaikan-kebaikannya diberikan pula kepada si itu. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum hutangnya lunas, maka di ambillah dari kesalahan-kesalahan mereka lalu dilempar kepada orang itu, kemudian ia pun dicampakkan ke dalam neraka.”

Oleh karena itu, Nabi SAW pun bersabda:
“Barangsiapa pernah menganiaya saudaranya mengenai kehormatan atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta maaf kepadanya hari ini sebelum tiada lagi dinar maupun dirham. Jika ia mempunyai amal saleh, maka diambillah daripadanya seukuran penganiayaannya, dan jika ia tidak mempunyai kebaikan-kebaikan, maka diambillah diantara keburukan-keburukan sahabatnya itu, lalu dipukulkan terhadapnya.” (Misykatul Mashabih)

Dari Abu Hurairah RA dan dari Sahal bin Mu’adz, dari Rasulullah SAW beliau bersabda:
“Barangsiapa menahan kejengkelan, sedang dia mampu melampiaskannya, maka Allah Ta’ala akan memanggilnya pada hari kiamat, disaksikan oleh seluruh makhluk, sehingga ia disuruh memilih bidadari yang mereka kehendaki.”
(demikian tersebut dalam al-Lubab)

Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa AS:
“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tapi dia memberi maaf, maka Aku memandang kepadanya setiap hari tujuh puluh kali. Padahal orang yang Aku pandang sekali saja, maka Aku takkan mengazabnya dengan neraka-Ku,” (Raudhatul Mughni)

   Maka bagi orang yang berakal, hendaklah membiasakan memberikan maaf kepada sesama manusia dan berbuat kebajikan kepada mereka serta memelihara diri dari kejengkelan dan marah, karena hal itu akan mengakibatkan masuk neraka. Semoga Allah memelihara diri kita dari neraka dan memasukkan kita ke dalam surga beserta orang-orang yang baik.

No comments:

Post a Comment

Bergabunglah bersama kami dalam mengelola perdagangan Nasional.
"Kami telah siap melayani anda di Seluruh Indonesia"